Bekas Rumah Sakit (Episode 5): Tolong Aku!

Posted by

Roni keluar dari ruang operasi lalu melewati anak kecil tadi. Anak itu masih menangis, Roni tidak peduli dengannya. Beberapa kali, anak itu minta tolong, tapi Roni tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia menyeret karung yang sudah penuh oleh barang-barang curian.

“Daman!” keluar dari koridor itu, ia menoleh ke kanan. Arah Daman berpisah dengannya barusan.

Tidak ada jawaban sema sekali. Roni lalu berjalan gontai, ia sepertinya kesulitan menyeret karung itu. Di dadanya terselempang kamera hasil yang masih merekam.

“Man… Daman! Di mana lu?”

Dari kejauhan, terdengar suara brankar yang didorong mendekat. Roni maju beberapa langkah mendekati koridor yang menjadi sumber suara tersebut. Cahaya senter ia sorotkan ke lorong koridor, di sana ia melihat sebuah brankar yang didorong oleh dua orang lelaki berpakaian medis. Semakin medekat wajah lelaki yang terbaring di atas brankar terlihat semakin jelas.

Itu adalah Daman. Brankar itu berbelok kiri menuju kamar mayat. Karung yang ia seret dibiarkan begitu saja, Roni lari mengejar brankar yang masuk ke dalam kamar mayat. Pintunya terkunci dengan sangat rapat, dengan sekuat tenaga Roni mendobrak pintu itu. Namun, tetap tidak bisa.

Buru-buru ia mencari sesuatu untuk mendobrak pintu. Kamera yang masih terselempang di dadanya, ia letakkan di letakkan di lantai. Segera lari ke ruangan sebelah, untungnya ia menemukan sebuah tabung pemadam api. Sebelum sampai di depan pintu, ia berhenti dan mendongak pada jendela kamar mayat.

“Ah, sial,” decak Roni.

Tadinya Roni akan memecahkan jendela itu, tapi ternyata ada tralis besi yang terpasang di dalamnya.

Dengan sekuat tenaga, ia membenturkan tabung ke pintu itu. Akhirnya pintu itu berhasil didobrak. Tidak ada siapa-siapa di dalam, hanya ada brankar-brankar tua yang berjajar rapi. Roni mengarahkan cahaya senter ke segala arah sambil memanggil nama temannya itu.

Di sudut kanan ruangan, ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Itu sebuah lubang di lantai berbentuk segi empat seperti lubang septic tank, ia mendekati lubang itu perlahan dan hati-hati. Semakin dekat, suara sayup orang minta tolong semakin terdengar dari dalam lubang itu. Bukan hanya satu orang, tapi terdengar banyak suara meminta tolong.

Ketika Roni mengarahkan cahaya senter ke dalam lubang tersebut, terlihat wajah-wajah manusia mendongak ke arahnya. Mereka adalah Tono dan istrinya, Udin, juga Daman. Wajah mereka terlihat sangat pucat, sambil menangis mereka meminta tolong pada Roni.

Lubang itu cukup dalam, satu-satunya cara untuk mengeluarkan mereka adalah dengan tali. Ia harus mencari tali terlebih dahulu lalu menarik mereka satu persatu keluar dari lubang. Roni mengeluarkan tali tampar dari dalam tasnya yang sengaja ia bawa untuk persediaan. Ia hanya akan mengeluarkan Daman dari dalam lubang itu.

“Daman lu dulu yang naik!” teriaknya dari atas.

Tali diulur perlahan ke dalam lubang, lengan kanan Roni masih memegangi senter. Daman meraih tali, sekuat tenaga Roni menarik tubuh Daman. Akan tetapi, tali itu seperti ada yang menarik dengan kencang dari dalam lubang membuat tubuh Roni tersungkur lalu masuk ke dalam lubang. Cahaya senter yang ikut masuk perlahan meredup dan padam, suara mereka tidak lagi terdengar.

Suara langkah sepatu terdengar mendekati lubang. Itu dokter Arwani, setelah melongokkan kepala ke dalam lubang, ia lalu melangkah keluar ruangan. Ditemukannya sebuah kamera yang masih merekam, dokter Arwani membawanya masuk ke dalam kamar mayat. Pintu perlahan ia tutup kembali, kamera tadi ia letakkan di atas brankar.

Layar kamera itu tiba-tiba kusut lalu merekam lagi, sesaat kemudian kusut lagi. Sampai akhirnya kamera itu tidak lagi merekam, tetapi menampilkan sebuah kejadian-kejadian di masa lalu. Tentang rumah sakit ini. Yang tentu saja masih menyimpan banyak rahasia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *